Tampilkan postingan dengan label syifa azzahra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label syifa azzahra. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Mei 2016

Nestapa Jiwa

Sumber : Google
Aku terjabak sendirian dalam ruangan yang ramai
Tak asing dengan bising peluru menggema
Keluarga ku semua terkapar tak bernyawa di jalan itu
Sedangkan aku hanya terdiam dalam nestapa
Ayah, Ibu setelah kalian tiada siapa yang akan menjaga ku?

Simbah darah dijalanan bagaikan hujan terekam jelas di otak ku
Andai aku berdaya yahudi itu akan ku musnakan
Kapan negera ku ini damai
Bisakah terjawab atau hanya pertanyaan tanpa jawaban
Dimana solidaritas yang kalian punya wahai kaum muslim
Simbah darah, bangkai yang bertebaran menjadi bukti kezaliman itu
Bangkit, ulurkan tangan kalian pada ku
Setidaknya keluarkan aku sementara dari negara bersimbah darah ini
Janji ku menjadi kuat

Shifa Azzahra, 04 Mei 2016, jam 10:48.

Kepungan Bimbang

Ilustrasi : Google

Aku melihat fotonya ada disetiap sudut kota
Berbagai visi dan misi dituliskan
Tak jarang ia datang bak pahlawan
Ada senyuman dalam setiap perbuatan
Terlihat sabar melayani orang miskin

Bahkan aksi pungut sampah diikuti
Adakah keikhlasan yang tertera
Atau hanya bayangan fatarmogana
Sampai kapan kebohongan itu hadir
Atau beginilah jiwa yang akan hadir kedepan

Tak adakah pondasi yang utuh
Kebingungan ku hadir melihat semuanya
Senyuman itu bagaikan malaikat maut
Seolah janji yang diucapkan hanya kesenangan semata
Dia kah yang menjadi pemimpin kelak?
Senyuman bak setan yang menunggu waktu untuk terlihat
Jawabannya ada dalam jiwa yang mengerti sunyi akan arti


Oleh : Syifa Azzahra , 11 Mei 2016

Rabu, 04 Mei 2016

JERITAN GELAP

Sumber : Google

Ada tapi bagai tiada
Asa itu bagai hilang tertelan gelap
Tertawa bagai tangis
Tak seperti cermin yang diam
Datang dengan harapan penuh
Semangat yang membara bagai berlari di pasang pasir nan gersang
Seorang diri meratapi di ujung gelap itu
Menanti uluran tangan yang tak mati hati
Terlalu banyak kepuraan dalam uluran tangan 
Bagaikan skenario hingga ending semua terseting indah
Terlalu lucu, memberi uluran lalu dengan keras mendorong
Lihat lah gelap itu
Gelap yang hanya membutuhkan setitik terang
Gunakan telinga bukan hanya mata
Buka hati bukan hanya buka dompet
Jeritan tak berdaya itu bagai iris sembilu
Luka yang tergangan lalu dituangkan asam
Perih, jeritan yang tertahan diujung gelap itu
Aku yang menyaksikan hanya terdiam, tak mampu hanya selain tekat
Suatu saat jeritan itu akan ku hapuskan
Bukan sekarang, sekarang biarlah aku menjadi cermin
Melihat, mendengar, merasa tapi hanya diam.
Suatu saat aku kembali dengan sosok lain
Kuat ku bukan sekarang, nanti. Waktu datang untuk menjawab
Setidaknya ada titik terang dalam dominasi gelap.


04 Mei 2016, oleh : Syifa Azzahra