Tampilkan postingan dengan label #SaveRohingyas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #SaveRohingyas. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Mei 2015

"Kami Muhajirin, Kalian Anshar Penolong Kami"

M Syahidullah (kiri) dan M Yunus (kanan)

Rohingya menjadi sorotan bulan ini di seluruh dunia. Aceh pun demikian. Ribuan kelompok etnis minoritas tertindas di Myanmar ini terdampar, atau terpaksa berlabuh di Aceh.
Dalam keadaan mengenaskan, kurus kering kelaparan, hitam legam terbakar matahari, nyaris meregang nyawa.

Tidak sanggup rasanya menahan haru menyaksikan keikhlasan tanpa pamrih yang ditunjukkan masyarakat Aceh, terutama di perdesaan nelayan, saat menangani "tamu Allah" yang tiba-tiba datang di pantai mereka.

Di saat banyak negara, termasuk Indonesia, menafikan keberadaan Rohingya atas nama kedaulatan negara, wilayah, ketahanan sosial dan tetek bengek lainnya, warga Aceh tidak pikir dua kali menarik Rohingya ke daratan, melayaninya dengan istimewa.

Mungkin ini adalah cerminan dari anjuran memuliakan tamu yang diajarkan junjungan Nabi Muhammad shallalahu alaihi wassalam.

Melarikan diri dari Myanmar untuk menyelamatkan nyawa dari penindasan, warga Rohingya yang tiba di daratan Aceh meneteskan air mata haru karena melihat kebaikan warga Aceh kepada mereka.

Seorang imigran Rohingya, Mohamad Tayoub Ali, 25 tahun, mengaku bhagia berada di lokasi penampungan Kuala Langsa.

“Masyarakat Aceh ramah-ramah dan baik sekali pada kami. Mereka memberi kami makanan, minuman, pakaian,” kata Ali.

Muhammad Yunus, pengungsi Rohingya yang kini tinggal di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Lapang, Aceh Utara menyatakan bahwa ia sangat berterima kasih pada warga Aceh.

“Semua atas pertolongan Allah. Kami seperti kaum muhajirin dan kalian kaum ansharnya, yang menolong kami, Alhamdulillah,” kata Yunus kepada tim jurnalis media Islam di Aceh Utara, Rabu (27/5/2015).

Yunus menyampaikan rasa terima kasih dalam bahasa Arab. Selain itu, ia juga mengisahkan bahwa dirinya selama 60 hari berada di lautan dengan kondisi sangat kelaparan.

“Saya sebenarnya ingin ke Malaysia, kami ke laut, dan sampai di Thailand, lalu ke Malaysia, namun kapal kami terbalik. Kami naik kapal baru di Thailand dan terombang-ambing hingga sampai ke sini (Aceh),” kenang Yunus.




IOM: Cara Aceh Tangani Rohingya Terbaik Sedunia


Sejumlah pihak, baik Indonesia maupun internasional, memuji penanganan cepat pengungsi Rohingya yang dilakukan masyarakat dan pemerintah Aceh. Dengan bantuan mereka, pengungsi Rohingya yang terdampar di perairan timur Aceh mendapat uluran tangan dengan cepat.

Operation Officer International Organization for Migration (IOM), Kamis (28/5), Dejan Micevski menyebutkan, penanganan pengungsi yang berasal dari Myanmar dan Bangladesh yang dilakukan masyarakat dan pemerintah di Aceh merupakan penanganan terbaik di seluruh dunia. 

“Masyarakat dan pemerintah di Aceh telah membantu pengungsi Rohingya dan warga Bangladesh dengan cepat. Bahkan saat pertama kali dibawa ke daratan, mereka langsung mendapatkan perawatan kesehatan, makanan, dan pakaian. Kami menilai, ini cukup baik,” tutur Dejan Micevski. 

Saat ini, 1.062 orang Rohingya yang berasal dari Myanmar dan 720 warga Bangladesh ditampung di beberapa daerah di Aceh, seperti di Kabupaten Aceh Utara, Aceh Timur, Kota Langsa, dan Kabupaten Aceh Tamiang. 

Dejan Micevski mengatakan, dengan bantuan dan respons cepat yang dilakukan masyarakat dan pemerintah Aceh, penderitaan manusia perahu yang cukup lama terkatung-katung di tengah laut dapat berkurang. 

“Semua pihak patut berterima kasih kepada masyarakat dan pemerintah di Aceh. Di sini rasa kemanusiaan masih terjaga dengan baik,” ucapnya. 

Dejan Micevski menambahkan, untuk pengungsi Rohingya, baik yang berada di Aceh Timur, Aceh Utara, Langsa, dan Aceh Tamiang, untuk sementara tetap ditampung di penampungan tersebut. 

“Sementara itu, warga Bangladesh yang terdampar di Aceh akan dikembalikan bertahap ke negara mereka,” ujarnya. 

Wakil Bupati Aceh Timur, Syahrul Bin Syamaun mengatakan, penanganan yang diberikan pihaknya terhadap etnis Rohingya dan Bangladesh yang terdampar di perairan Aceh Timur merupakan bentuk kepedulian Aceh terhadap sesama manusia. 

“Bantuan yang kami berikan untuk mereka bukan hanya karena sesama Islam, melainkan karena faktor kemunusiaan. Siapa pun yang membutuhkan bantuan tetap kami berikan,” ucap Syahrul. 

Sementara itu, Bupati Aceh Utara Muhammad Thayib menyebutkan, pemerintah Aceh Utara akan memberikan bantuan sepenuhnya kepada para pengungsi Rohingya. 

Pemerintah tidak hanya menyediakan lahan penampungan, tetapi juga menyiapkan lahan permukiman permanen bagi pengungsi Rohingya. 

"Kami akan membantu menyiapkan lahan untuk tempat tinggal lebih permanen bagi pengungsi Rohingya. Luas lahan tersebut sekitar 2.500 meter persegi, terletak di Kecamatan Nibong,” kata Muhammad Thayib.

Sabtu, 23 Mei 2015

Petisi dari Aceh untuk Penyelamatan Bangsa Rohingya

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Aliansi Masyarakat Aceh Peduli Rohingya, Jumat (22/5/2015) mengeluarkan petisi menekan masyarakat internasional peduli terhadap nasib bangsa Rohingya yang terusir dari negaranya.
Pengungsi Rohingya diselamatkan Nelayan Aceh
Koordinator Aliansi Masyarakat Aceh Peduli Rohingya, Basri Effendi kepada Serambinews[dot]com, Jumat malam mengatakan, kondisi saat ini mewajibkan komunitas internasional, terutama para pemimpin negara- negara ASEAN dapat menekan Pemerintah Myanmar untuk menghentikan tindakan brutal terhadap bangsa Rohingya.
Menurutnya, bangsa Rohingya telah mendiami wilayah Arakan sejak abad ke 15 Masehi. Namun sejak kemerdekaan Myanmar pada 1948, Pemerintah menolak Rohingya sebagai bagian dari negara dan memarjinalisasi mereka secara sistematik.
"Teror ini mendorong ratusan ribuan etnis Rohingya lari dari tanah airnya atas alasan keamanan diri dan berusaha meminta pertolongan kepada masyarakat internasional, terutama negara-negara ASEAN, termasuk ke negeri kami di Aceh, " ujar Basri.
Berikut Petisi Masyarakat Aceh Peduli Rohingya:

1. Masyarakat internasional dan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) harus lebih berperan aktif dalam menghentikan pelanggaran HAM terhadap etnis Rohingya, dan melaksanakan mekanisme hukum internasional untuk menindak para aktor dibelakang krisis kemanusiaan ini.
2. Pemerintah negara-negara ASEAN harus berdiri bersama-sama menentang pelanggaran HAM terhadap minoritas muslim Rohingya di Myanmar.
3. PBB dan ASEAN harus memberikan sanksi tegas terhadap siapapun yang melakukan pelanggaran HAM bagi etnis Rohingya
4. Pemerintah negara-negara ASEAN harus menekan Pemerintah Myanmar untuk menghentikan segala tindakan yang menyebabkan krisis kemanusiaan ini dan menghormati hak-hak etnis Rohingya atas tanah/properti serta akses pelayanan publik yang adil. Jika tidak, maka Pemerintah negara-negara ASEAN akan menghentikan segala agenda investasi dan ekonomi dengan Myanmar.
5. Dalam jangka pendek, bantuan kemanusiaan yang diberikan oleh Pemerintah dan masyarakat Aceh dalam penanganan pengungsi Rohingya harus mendapat dukungan dari segala pihak. Tidak seorang pun pengungsi Rohingya yang ditemukan dalam wilayah negara-negara ASEAN akan ditolak. Kehadiran organisasi kemanusiaan internasional harus didukung oleh segenap pihak untuk membantu para pengungsi dalam koordinasi yang erat antara Pemerintah Aceh dan Aliansi Masyarakat Aceh untuk Rohingya.
6. Dalam jangka panjang, Pemerintah Myanmar harus memberikan izin bagi organisasi kemanusiaan, terutama yang berasal dari negara- negara ASEAN untuk: (i) memberi bantuan kemanusiaan bagi etnis Rohingya untuk mendapatkan kembali tanah dan properti mereka; (ii) mengizinkan organisasi kemanusiaan internasional untuk membantu reintegrasi etnis Rohingya dengan etnis lainnya di Myanmar; (iii) mengizinkan organisasi kemanusiaan dalam memberikan perlindungan sipil untuk memitigasi segala risiko terhadap krisis kemanusiaan di masa mendatang; (iv) menyediakan akses kepada organisasi internasional yang relevan, dalam mengambil tindakan untuk menghentikan segala aksi kekerasan dan militer yang dapat melanggar Hak azasi manusia, dan; (v) menuntut Pemerintah Myanmar agar memberikan hak kewarganegaraan dan keadilan bagi etnis Rohingya sesuai dengan prinsip-prinsip kemanusiaan dan demokrasi.
Tertanda, yang berkumpul di Aliansi : Pemerintahan Aceh, KAMMI Aceh, PAHAM Aceh, MAPESA, Aceh Fulbright Association, PII, HMI, PUKAT, Aceh Love Rohingya, KWPSI, IMM, FPMPA, HIMMAH, BKPRMI Aceh, Dema UIN Ar Raniry, BEM Unsyiah, FSLDK Aceh, DDII Aceh, KSDA, Himapalsa, The Globe Journal, Serambi Indonesia, Portal Satu, OZ Radio, @Acehinfo, @iloveaceh, Komunitas Blogger, IKAT-Aceh, Darah Untuk Aceh, PKPU, Remaja Mesjid Raya Baiturrahman, Kaukus Pemuda Peduli Aceh, IKAPDA, KNSR, Aceh People's Forum (APF).

Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2015/05/22/petisi-dari-aceh-untuk-penyelamatan-bangsa-rohingya