Tampilkan postingan dengan label Political Club. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Political Club. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Juni 2016

Diskusi Publik :Menelisik Toleransi Agama Dan Potensi Radikalisme di Aceh



galeri political Club
Banda Aceh,(22/06/2016), Political club Prodi Ilmu politik FISIP Unsyiah mengikuti acara yang diselengarakan oleh Prodi Ilmu politik FISIP Unsyiah   dan acara ini tersebut memiliki dua rangkaian, pertama diskusi Publik dan yang kedua buka puasa bersama,  dan tersbut dilaksanakan di aula FISIP Unsyiah pada pukul 16.30 s.d Selesai dengan tema, “Menelisik Toleransi Agama Dan Potensi Radikalisme di Aceh”,dengan pemateri, Kamaruzzaman Bustaman Ahmad, Ph,D, Radhi Darmansyah M,Sc dan Masrijal M.A, yang dipadu oleh Dr. Effendi Hasan.
       “Diskusi ini hadir untuk mengkaji terhadap beberapa ketimbangan yang terjadi belakangan ini, salah satunya yang masih hangat ialah terkait pencabutan perda syariat Islam dan juga tentang pernyataan Dr Khalid Basalamah”, ungkap Dr Effendin Hasan.
       “Radikalisme mulai masuk Ke Aceh pada tahun 2005, pada suatu hal yang unik dari sel-sel radikalisme yang lahir ini dan mereka memiliki sistem pembinaan yang unik, dimana misal Saya mengenal pak Radhi namun saya tidak peduli dengan latar belakang dari pada radhi ini, yang mesti saya tahu bahwa saya dan pak radhi memiliki tujuan yang sama, sebenarnya sel-sel mereka sudah bisa dideteksi pada tahun 2006, dan akhirnya pada tahun 2010 gerakan radikalisme meledak salah satunya kejadian di jalin, hal ini menunjukkan bahwa gerakan masih ada namun sekarang ini gerakan ini memainkan pola baru yaitu mereka mulai masuk ke desa tidak seperti sebelumnya yang hanya bermain di kota saja. Ungkap Kamaruzzaman Bustaman Ahmad. 
“Konflik di Aceh memiliki konsep naik turun-naik turun, artinya bahwa konflik di Aceh memiliki konsep yang unik, dimana terkandang konflik ini berada fase klimasnya atau berada pada puncaknya dan kadang kala berada pada fase bawah atau tidak ada konflik. Ketidakadilan merupakan suatu hal yang bisa memunculkan konflik, misalnya, tentangga saya baik pada saya maka tentunya saya juga akan berbuat kepadanya, beberapa masalah ketidakadilan di rasakan dapat menghadirkan konflik laten, ketidakadilan yang besar bisa menjadi jurang pemisah sehingga melahirkan radikalisme, contoh di Aceh Timur kaya dengan minyak, ketika ada kelompok yang tida mendapatkan hasil dari minyak ini maka ia akan melakukan tindakan kriminalitas, sehingga akan menghasilkan sumber konflik baru”, ujar Radhi darmansyah.
“ setelah terjadi tragedi bom di WTC, yang dilakukan oleh kelompok Al-Qaidah pimpinan Usama Bin Laden, maka sejak itulah dunia mulai mencurigai bahwa Islam indetik dengan tindakan radikalisme, apahal apabila kita telusuri maka hal itu tidaklah benar, karena pada dasarnya tindakan radikalisme lahir daripada ketidakpahaman di dalam memahami perbedaan. Ujar Masrijal
       Dengan demikian radikalime hanya bisa di hilangkan apabila dilakukan pembasmian dari akarnya, bukan dilakukan pembasmian di saat sudah menjadi pohon, karena apabila sudah menjadi pohon maka akan sangat sulit untuk dihilangkan, dimana pohon ini memiliki buah dan buah ini memiliki biji sehingga biji bisa berkembang dan akan kembali menjadi pohon, dan pola tersebut akan berlangsung lama.(mun).




 
     

Rabu, 15 Juni 2016

Acara buka puasa bersama political club






sumber: galeri album political club
Banda Aceh (15/06/2016), political club prodi Ilmu Politik mengelar acara buka puasa bersama sakaligus permbubaran panitia pada acara diskusi publik sebelum, acara ini dilaksanakan di nasi uduk kelapa dua, acara di hadiri oleh seluruh pengurus polititical club dan . Acara ini merupakan suatu momentum untuk meningkatkan kebersamaan dan juga kekompokan yang sempat terganjal dengan aktivitas final.

Sebenarnya kebersamaan dan kekompokan harus selalu terjalin dengan baik agar di saat dilaksanakan kegiatan apapun selalu menghasilkan hasil yang optimal, hal ini sangat diperlukan agar setiap pengurus political club mengerti kekuarangan dan kelebihan temannya, sehingga di dalam kegiatan political club, setiap pengurus bisa menutup kekurangan temannya yang lain.

“dalam pelaksanakaan kegiatan diskusi publik kemarin kita mengalami suka dan duka namun semua itu bisa kita lalui karena kekompokan kita bersama, suksesnya acara kemarin bukan karena saya sebagai ketua panitia namun semua itu karena kerja keras dan keyakinan teman-teman untuk menyukseskan acara tersebut, saya ucapkan terima kasih banyak kepada seluruh panitia yang telah rela menghabiskan tenaganya hanya untuk keberhasilan acara tersebut”, ujar Razikin akbar di dalam sela-sela acara berbuka puasa.

“Kita harus menjadikan acara buka puasa ini sebagai momentum untuk memperbaiki diri, baik itu dalam ketaqwaan maupun untuk meningkatkan tanggung jawab.  Apabila kita menerima amanah maka kita harus bertanggung jawab, karena amanah merupakan suatu kepercayaan yang telah diberikan kepada kita maka sudah seyogiannya kita untuk melaksanakannya dengan baik,dan juga saya ucapkan terima kasih banyak kepada seluruh pengurus political club yang sudah mau menghabiskan waktunya untuk menyuseskan setiap acara political club”, ujar Munawwar, selaku sebagai ketua umum.

Di akhir acara seluruh pengurus political club melakukan photo bersama, dan bersuka ria atas pertemuan ini, salah satu pengurus political club berujar semoga tahun depan acara ini bisa dilaksanakan kembali, dan juga acara ini penting, apalagi acara ini bisa mencairkan suasana ataupun rasa lelah di dalam acara bisa terobati dengan adanya acara seperti ini. 


Jumat, 20 Mei 2016

Diskusi : Mengidentifikasi Pemberlakuan Daerah Operasi Militer di Aceh sebagai Penyebab Penurunan Perekonomian


Banda Aceh (19/05/2016), political Club prodi Ilmu Politik kembali melaksanakan diskusi rutin di aula lantai perpustakaan Unsyiah dengan tema “Mengidentifikasi Perlakuan Daerah Operasi Militer, Di Aceh sebagai Penyebab Penurunan Perekonomian, tema ini sengaja dianggkat mengingat pada bulan mei menurut dari catatan sejarah merupakan bulan yang begitu yang membekas di dalam benar rakyat Aceh, dimana pada bulan ini tepat pada tahun 1989 Aceh diberlakukan sebagai Daerah Operasi Militer.
       Aceh dan konflik adalah sesuatu yang sulit dipisahkan satu sama lain, karena memang sejak lama Aceh sudah akrab dengan “konflik”, secara de facto  Aceh terakhir berkonflik ialah pada tahun 2005, hal ini kita mengacu ke dalam perjanjian damai anatara GAM dan RI, yang sepakat berdamai pada tanggal 15 Agustus 2005, maka dari pada itu Aceh tidak pernah lagi melakoni konflik dan semenjak itu Aceh hanya fokus pada masa transisi saja atau dengan kata lain hanya fokus di dalam pemulihan daripada dampak-dampak yang dihasilkan oleh konflik.
     “Konflik memiliki peranan di dalam mendorong pernurunan perekonomian, yang mana di saat konflik meletus , tentu masyarakat tidak bisa sebarangan di dalam menecari nafkah yang selanjutnya diimplementasikan lewat kekurangan sandang dan pangan, maka terjadi lah krisis di Aceh harga barang-barang semakin tinggi dan sulit dijangkau karena kekurangan stok yang tersedia, belum lagi pihak-pihak investor engan masuk ke Aceh takut keamanan usahanya terganggu atau juga diganggu oleh pihak berkonflik”, Ujar Jakfar salah satu dari anggota political club, dalam sela-sela pemaparannya. 
       “Sektor pendidikan juga berperan di dalam peningatan perekonomian, kita lihat saja negara-negara maju hampir rata-rata pendidikannya sangat bagus, maka ini menunjukkan bahwa pendidikan dan perekonomian adalah dua hal yang memiliki keterkaitan dan sangat tidak bisa dipisahkan, bila konflik tentunya disektor pendidikan akan terganggu, hal ini nyata terjadi konflik bahkan ketika kontak senjata sudah begitu parah maka besoknya sekolah diliburkan dan masyarakat diungsikan, maka bayangkan saja bagaimana nasib anak-anak Aceh yang sedang menuntut ilmu, oleh karenanya pemberlakukan daerah operasi Militer memiliki dampak di dalam penurunan perekonomian di Aceh, di tambah lagi dengan trauma akut yang dimiliki oleh sebagai masyarakat Aceh sehingga membuat ia takut terhadap sesuatu yang terlalu berlebihan” ujar Munawwar.
       Di akhir diskusi saudara moderator merangkum beberapa point terkait dengan diskusi “ Pemberlakukan daerah operasi militer di Aceh memiliki dampak di dalam penurunan  sektor perekonomian dan juga sektor pendidikan masyarakat Aceh, karena sudah seyogiannya generasi ini dipersiapkan untuk membuat Aceh lebih maju lagi namun dengan adanya pemberlakukan DOM di Aceh maka membuat cita-cita mereka terabaikan, sebenarnya pihak RI dan GAM bisa menyelesaikan masalah secara persuasif saja tanpa harus berkonflik terlalu lama. Ujar Tarmizi (moderator).  



Minggu, 15 Mei 2016

Political Club : Open Recruitment !

Informasi OR Political Club
OR POLITICAL CLUB . KHUSUS UNTUK ANAK POLITIK FISIP UNSYIAH LETTING 2013-2015 . PENDAFTARAN DARI 13-20 Mei dan WAWANCARA 21 Mei . Jangan Sampai KETINGGALAN GUYS. Untuk informasi tentang Political Club, silahkan klik disini !


Open Recruitment Form

Selasa, 26 April 2016

SUMPAH SUKARNO

“...Waallah Billah, Atjeh nanti akan saya beri hak untuk menjusun rumah tangganja sendiri sesuai Syari’at Islam. Akan saya pergunakan pengaruh saya agar rakjat Aceh benar-benar dapat melaksanakan Syari’at Islam. Apakah Kakak masih ragu...??”
Kata-kata di atas diucapkan oleh Sukarno sambil terisak di bahu seseorang yang ia panggil Kakak. Sang kakak, tidak lain adalah Daud Beureueh. Akhirnya, berbekal iba dan isak tangis, Sukarno berhasil meluluhkan hati sang Abu Jihad, demikian panggilan Daud Beureueh.
Sukarno mengucapkan janjinya untuk meyakinkan Daud Beureueh, bahwa jika Aceh bersedia membantu perjuangan kemerdekaan, Syari’at Islam akan diterapkan di tanah Rencong ini. Maka urung niat Daud Beureu’eh meminta perjanjian hitam di atas putih.
Janji tinggal janji, belum kering bibir sang Presiden, Ia menghianati janji yang di ucapkannya sendiri. Dan penerapan Syariat Islam di Aceh pun tinggal mimpi. Air mata yang diteteskan Sukarno dianggap hanya pelengkap sandiwara. Deraian air mata bung Karno ternyata adalah titik awal mula penderitaan rakyat pemodal kemerdekaan bangsa ini.
Saat berkunjung ke Aceh tahun 1948, Bung Karno dengan sengaja menemui tokoh Aceh, Daud Beureueh. Bung Karno selaku Presiden RI menyapa Daud Beureueh dengan sebutan “Kakak” dan terjadilah dialog yang sampai saat ini tersimpan dengan baik dalam catatan sejarah :
Presiden Sukarno : “Saya minta bantuan Kakak agar rakyat Aceh turut mengambil bagian dalam perjuangan bersenjata yang sekarang sedang berkobar antara Indonesia dan Belanda untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah kita proklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945.”
Daud Beureueh : “Saudara Presiden! Kami rakyat Aceh dengan segala senang hati dapat memenuhi permintaan Presiden asal saja perang yang akan kami kobarkan itu berupa perang sabil atau perang fisabilillah, perang untuk menegakkan agama Allah sehingga kalau ada di antara kami yang terbunuh dalam perang itu maka berarti mati syahid.”
Presiden Sukarno : “Kakak! Memang yang saya maksudkan adalah perang yang seperti telah dikobarkan oleh pahlawan-pahlawan Aceh yang terkenal seperti Teungku Cik Di Tiro dan lain-lain, yaitu perang yang tidak kenal mundur, perang yang bersemboyan merdeka atau syahid.”
Daud Beureueh : “Kalau begitu kedua pendapat kita telah bertemu Saudara Presiden. Dengan demikian bolehlah saya mohon kepada Saudara Presiden, bahwa apabila perang telah usai nanti, kepada rakyat Aceh diberikan kebebasan untuk menjalankan Syariat Islam di dalam daerahnya.”
Presiden Sukarno : “Mengenai hal itu Kakak tak usah khawatir. Sebab 90% rakyat Indonesia beragama Islam.”
Daud Beureueh : “Maafkan saya Saudara Presiden, kalau saya terpaksa mengatakan bahwa hal itu tidak menjadi jaminan bagi kami. Kami menginginkan suatu kata ketentuan dari Saudara Presiden.”
Presiden Sukarno : “Kalau demikian baiklah, saya setujui permintaan Kakak itu.”
Daud Beureueh : “Alhamdulillah. Atas nama rakyat Aceh saya mengucapkan terima kasih banyak atas kebaikan hati Saudara Presiden. Kami mohon (sambil menyodorkan secarik kertas kepada presiden) sudi kiranya Saudara Presiden menulis sedikit di atas kertas ini.”
Mendengar ucapan Daud Beureueh itu Bung Karno langsung menangis terisak-isak. Air mata yang mengalir telah membasahi bajunya. Dalam keadaan sesenggukan ;
Sukarno berkata, : “Kakak! Kalau begitu tidak ada gunanya aku menjadi presiden. Apa gunanya menjadi presiden kalau tidak dipercaya.”
Dengan tetap tenang, Daud Beureueh menjawab, : “Bukan kami tidak percaya, Saudara Presiden. Akan tetapi sekadar menjadi tanda yang akan kami perlihatkan kepada rakyat Aceh yang akan kami ajak untuk berperang.”
Sambil menyeka air matanya, Bung Karno mengucap janji dan bersumpah;
Bung Karno bersumpah : “Waallah Billah (Demi Allah), kepada daerah Aceh nanti akan diberi hak untuk menyusun rumah tangganya sendiri sesuai dengan Syariat Islam. Dan Waallah, saya akan pergunakan pengaruh saya agar rakyat Aceh benar-benar dapat melaksanakan Syariat Islam di dalam daerahnya. Nah, apakah Kakak masih ragu-ragu juga?”
Daud Beureueh menjawab : “Saya tidak ragu Saudara Presiden. Sekali lagi, atas nama rakyat Aceh saya mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikan hati Saudara Presiden.”
Dalam sebuah wawancara yang dilakukan M. Nur El Ibrahimy dengan Daud Beureu'eh, El Ibrahimy adalah seorang Purn. ABRI juga menantu Daud Beureueh. Menyatakan bahwa mertuanya itu melihat Bung Karno menangis terisak-isak, sehingga dirinya tidak sampai hati lagi untuk bersikeras meminta jaminan hitam di atas putih atas janji-janji presiden itu.
Sukarno mengucapkan janji tersebut pada tahun 1948. Setahun kemudian Aceh bersedia dijadikan satu provinsi sebagai bagian dari NKRI. Namun pada tahun 1951, Provinsi Aceh dibubarkan pemerintah pusat dan disatukan dengan Provinsi Sumatera Utara.
Lalu, apa yang terjadi? Aceh kembali membara. Bukan itu saja, hak untuk mengurus diri sendiri dan menjalankan syariat Islam sejak awal kemerdekaan sebagaimana janji dalam pertemuannya dengan Daud Beureueh pun akhirnya dicabut.
Rakyat Aceh berperang cukup lama melawan Belanda dan kemudian Jepang, lalu menguras dan rela menghibahkan seluruh kekayaannya; Aceh yang porak-poranda setelah Rumah-rumah rakyat, dayah-dayah, meunasah-meunasah (sejenis surau) dan sebagainya yang hancur karena peperangan melawan penjajah oleh pemerintah di jakarta dibiarkan terbengkalai.
Perempuan-perempuan Aceh rela melepaskan perhiasan emas dari tangannya, para pria menjual ternak-ternak kerbau, sapinya, hingga telur-telur ayam kampung -begitulah tutur orang-orang tua Aceh dulu-, Semua dikumpulkan untuk mengumpulkan dana dan membeli dua pesawat Dakota, RI-001 dan RI-002, cikal bakal Garuda Indonesia.
Juga sejumlah sumbangan dana untuk perjuangan mempertahankan kemerdekaan di luar Aceh, yakni di Medan Area dan Yogyakarta, itu mereka lakukan semata demi mempertahankan keberadaan Republik Indonesia.
Namun karena jasa ini pula-lah rakyat Aceh harus menanggung beban perang selama puluhan tahun dengan pemerintahannya sendiri. Kenyataan tersebut rakyat Aceh menganggap telah terjadi penghinaan yang luar biasa, Inilah titik awal timbulnya rasa sakit hati rakyat Aceh yang menyisakan parut luka hingga kini.
Dan pada kenyataan itu jua, rakyat Aceh telah mengangap bung Karno telah mengkhianati janji yang telah diucapkannya atas nama Allah SWT, Kenyataan ini pula oleh rakyat Aceh dianggap sebagai sebuah kesalahan yang tidak termaafkan.

Senin, 25 April 2016

Radhi Darmansyah: Aktivis Muda Harus Paham Isu di Aceh

Radhi Darmansyah: Aktivis Muda Harus Paham Isu di Aceh


img_9026
ACEHXPress.com | Forum Political Club melaksanakan Talk Show bersama para aktivis aceh yang bertempat di Aula fisip unsyiah, dalam kegiatan tersebut banyak sekali antusias mahasiswa yang berminat untuk mengikuti acara tersebut, dan ini dikarenakan mahasiswa masih peka terhadap isu-isu tentang aceh, senin (4/04/2016).
Acara tersebut dilaksanakan untuk membangkitkan kembali pandangan mahasiswa dalam hal ini mahaiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu politik terkait isu-isu yang belakangan ini marak melanda Aceh. Maka dari itu acara Talk show menjadi sebuah solusi bagi mahasiswa ilmu politik khususnya dan mahasiswa fisip umumnya, ungkap munawwar ketua panitia talk show.
Acara ini sangat bagus untuk mengasah kemampuan mahasiswa dalam hal menganalisa isu-isu terkini yang bermunculan di Aceh dan sebagai wadah anak poltik fisip unsyiah, Ungkap efendi hasan sebagai ketua prodi ilmu politik. Dan acara ini harus menjadi awal dari perubahan paradigma mahasiswa yang sebelumnya tidak acuh terkait persoalan yang terjadi di Aceh dan untuk selanjutnya menjadi orang pertama yang akan mengkaji persoalan yang ada di Aceh.
“Sudah seharusnya mahasiwa ilmu politik harus menjadi aktivis dalam perjuangan menuju Aceh yang sejahtera dalam membagun aceh kedepan oleh aktivis muda mudi fisip,” ungkap Muhammad MTA sebagai narasumber yang juga merupakan salah satu aktivis Aceh yang terlibat pada masa referedum.
“Peran mahasiwa tidak cukup sampai di sini saja. Akan tetapi peran mahasiswa harus lebih baik lagi dari yang terlibat sekarang agar bisa mewujudkan kemajuan Aceh ke depan. Aktivis pergerakan tidak akan pernah mati, kecuali masyarakat Aceh sudah sejahtera semuannya,” ungkap Hamzah salah satu dari pemateri.
“Sekarang aktivis muda harus paham terhadap isu-isu yang terjadi di Aceh, karena sangat berbeda perjuangan dahulu dengan sekarang bila dahulu perjuangan adalah untuk mencabut darurat militer yang diberlakukan oleh pemerintah pusat , akan tetapi fokus utama aktivis sekarang adalah menjadi kelompok penekan bagi pemerintah agar bisa terwujudnya kesejahteraan pada masyarakat Aceh,” ungkap Radhi Darmasyah salah satu dari pemateri. [ril]
Sumber : http://acehxpress.com/politik/radhi-darmansyah-aktivis-muda-harus-paham-isu-di-aceh.php